Penjelasan Dasar Compressor Dalam Dunia Produksi Musik

Apa itu compressor, penggunaan dan jenis-jenisnya.

Elifas Sonaru

8/15/20253 min read

Sebagai seorang produser musik kita pasti familiar dengan tools compressor. Bayangkan anda sedang berbicara dengan keras, kadang pelan-pelan atau berbisik. Kalau direkam, hasilnya pasti tidak rata - bagian keras membuat anda yang mendengarnya akan kaget, begitu pula bagian pelan hampir tidak kedengaran. Nah, compressor bertugas untuk meratakan perbedaan volume antara suara yang terlalu keras dan yang terlalu pelan.

Berikut beberapa fungsi compressor dalam dunia Produksi Musik.

  • Menjaga Konsistensi.

    Konsistensi audio dibutuhkan agar tidak tiba-tiba meledak atau tenggelam ketika semua instrumen digabungkan menjadi satu (meskipun ada beberapa instrumen yang membutuhkan dinamika yang beragam). Satu hal yang ini kita hindari yaitu adanya “clip” atau pecah.

  • Membuat suara menjadi lebih “enak” dan berkarakter
    Compressor mempu membatu sound drum, perkusi, ataupun instrumen perkusif lainnya terdengar lebih “punchy”, “tebal”, rata dan menempel dengan instrumen lainnya. Meskipun ada beberapa jenis compressor yang karakternya “transparent” atau tidak merubah soundnya. Beberapa compressor yang umum digunakan seperti 76 style, LA-2A bisa membuat warna yang khas pada instrumen atau suara kalian.

  • Mengontrol dinamika pada saat mixing
    Ketika semua instrumen yang sudah kita rekam menjadi suatu komposisi, pasti dinamikanya ada yang dominan. Selain menaikan atau menurunkan fader, compressor bisa membuatnya jadi lebih seimbang sehingga pendengar tidak capek karena dinamikanya yang amburadul.

    Bisa diambil kesimpulan bahwa fungsi utama dari compressor adalah sebagai penjaga volume seperti halnya wasit sepak bola yang mengatur dinamika permainan agar tidak ada yang melanggar dan permainan menjadi lebih teratur.

    Meskipun setiap model compressor berbeda, hampir semuanya punya kontrol inti:

    Threshold, bekerja sebagai batas volume dimana compressor mulai bekerja. Contohnya, ketika thresholdnya di -10 db - suara yang lewat dari -10 db akan dikompress.

    Ratio, bertugas untuk mengukur sebarapa kuat compressor menekan suara yang melewati threshold. Contohnya, ratio 3:1 - artinya ketika input naik 3 db di atas threshold, maka outputnya akan naik 1 db.

    Attack, bertugas untuk seberapa cepat compressor mulai bekerja setelah sinyal melewati threhold. 

    Release, artinya seberapa cepat compressor berhenti bekerja setelah sinyal turun di bawah threshold.

    Make Up Gain, Bertugas untuk menaikan gain. Ketika sinyal dikompress biasanya akan menjadi lebih pelan dari sebelumnya. Nah tugasnya untuk mebalikan levelnya agar lebih seimbang.

    Ada beberapa style compressor yang umum digunakan, terlepas dari merk apapun yang ada di pasaran.

    1. 76 Style (FET Compressor)
    Style compressor ini pasti familiar ditelinga kita. Dengan puchy, agressif, attack dan release yang super cepat, hampir semua produser musik menjadikannya senjata pada vokal rock dan pop, drum, hingga gitar.

    2. LA-2A (Optical Compressor)
    Berbeda dengan 76 style, LA-2A style tidak sebrutal itu. Kebanyakan menggunakan style compressor ini untuk instrumen yang membutuhkan sustain yang lembut seperti strings, bass, synth, piano, hingga vocal ballad atau jazz. Secara umum, karakter yang dihasilkan “transparent’ namun akan menambah sedikit karakter “warm” yang musikal tentunya.

    3. Fairchild 670 Style (Vari-Mu Compressor)
    Berbeda juga dengan kedua style compressor diatas, compressor ini memakai tube atau tabung vakum. Karakter yang dihasilkan sangat musikal, harmonik pada instrumen atau suara kita akan lebih berwarna. Dengan attack dan release yang lambat anda tidak perlu takut hasilnya akan jadi sangat agresif. Dengan sejarahnya yang panjang, compressor ini wajib untuk anda coba khususnya pada mix bus, strings, woodwind, vokal yang dinamikanya halus hingga untuk keperluan mastering.

    4. DBX 160 style (VCA Compressor)
    Karakter dari compressor ini sedikit lebih clean daripada 76 style. Jika anda merasa 76 style terlalu agresif, compressor ini bisa menjadi opsi. Saya pribadi sering menggunakannya untuk bass, kick dan snare.

    5. SSL Bus style (VCA Bus Compressor)
    Nah, compressor yang tidak pernah absen saya gunakan untuk mix bus adalah compressor style ini. Tugasnya adalah agar semua instrumen menjadi lebih menyatu atau istilah yang sering kita dengar lebih nge-glue. selain teknik EQ, compressor ini mampu membuat bunyi-bunyian yang “malu” menjadi lebih muncul.

    Dengan mengetahui fungsi dan karakter dari masing-masing style compressor, kita menjadi lebih sadar akan kebutuhan proyek musik kita. Disclimer, penjelasan mengenai compressor ini berdasarkan pengalaman saya sebagai seorang musik produser dan diperuntukan bagi mereka yang baru belajar di dunia produksi musik. Karena terkadang kita bisa saja mendapatkan ide yang unik saat sedang bereksplorasi.

    Keep Learning, keep growing!